Manusia adalah makhluq termulia di antara para makhluq. Firman Allah SWT dalam Surat Al-Isroo’ ayat 70: “Aku (Allah) telah memberikan karamah, (yaitu hak hidup terhormat) bagi setiap manusia ."
Manusia mulia karena memiliki penimbang (akal), sedangkan hewan hanya punya jadwal, yaitu jadwal makan, tidur dan lain-lain (naluri).
Tapi, manusia juga mempunyai jam biologi yang hewani.
Jika manusia tidak menggunakan penimbang dalam memilih berbuat atau tidak berbuat, maka kemuliaannya turun menjadi sederajat dengan hewan.
Manusia dilahirkan suci (polos), berperikemanusiaan, cenderung memilih yang adil dan benar. Namun, ketika manusia memperbesar keinginan biologi (hewani) dan tidak menggunakan penimbang, maka kesuciannya itu akan tercemar oleh debu-debu hawa.
Bila manusia ingin kembali suci, ia dapat melakukannya dengan mendaur ulang jiwanya, seperti air yang kotor dan sudah tercemar pelimbahan atau apapun, disiram oleh sinar panas matahari, terbang menguap menjadi awan, menetap di angkasa beberapa hari, kemudian turun lagi ke bumi sudah bersih, putih, suci dan dapat mensucikan.
Manusia dapat mendaur ulang jati dirinya dengan melelehkan hawa nafsunya (egonya), kemudian mengosongkan isi pikiran dan perasaan, dikuras keluar segala dendam dan benci, dilupakan semua yang menyakiti perasaan, kemudian ia ciptakan penghalang di muka pintu pikiran dan halaman perasaan untuk mencegah segala berita buruk, sifat-sifat busuk, segala yang membuat gelisah, seperti dendam dan benci, lalu ditutup kedua pintu itu rapat-rapat, dibuka hanya untuk berita, informasi dan apa saja yang menyenangkan.
Tenang dan damai, maka bersemayamlah surga di dalam dada. Jiwa menjadi kaya, tidak lagi merasa kurang dan tidak takut maupun cemas.
Mata dapat memandang apa saja, namun pandangan itu kosong, tidak nampak apapun kecuali pencipta segala yang dipandangnya itu.
Setelah itu, jiwa mendaki, mi’raj menemui pemilik diri.
Nabi Muhammad SAW sebelum memimpin negara, mi’raj menemui Sang pemilik dan pemelihara, sehingga beliau sukses memimpin negara dan ummat.
Oleh karena itu, siapapun yang berkeinginan mau memimpin negeri ini untuk menjadi pejabat eksekutif, legislatif maupun yudikatif, sebaiknya bermi’raj terlebih dahulu.
Sebelum bermi’raj, mensucikan jiwa dengan daur ulang seperti tersebut di atas. Kemudian mi’raj, lalu menjabat.
Ketika menjabat, tentulah bertaqwa.
Orang yang bertaqwa itu bagaimana?
Orang yang bertaqwa itu berakhlaq. Taqwa itu adalah akhlaq dan akhlaq itu adalah taqwa. Tidak mungkin orang yang bertaqwa itu tidak berakhlaq, misalnya keras kepala ataupun sombong.
Orang bertaqwa itu selalu berkelakuan baik dan santun bekerja. Berakhlaq kepada Allah.
Berakhlaq ketika menjabat.
Berakhlaq ketika bekerja.
Berakhlaq ketika berda’wah.
Berakhlaq ketika bermusyawarah di gedung DPR/MPR.
Berakhlaq ketika memimpin rakyat.
Berakhlaq memimpin rumah tangga.
Berakhlaq berfamili.
Berakhlaq bersedekah.
Berakhlak berbicara.
Berakhlaq berdagang.
Berakhlaq menegakkan keadilan.
Berakhlaq di pengadilan.
Berakhlaq di kantor.
Berakhlaq di pasar.
Berakhlaq di jalan.
Berakhlaq di masjid.
Berakhlaq di sekolahan.
Berakhlaq di depan presiden.
Berakhlaq di depan pemulung.
Berakhlaq memberi salam.
Bila tidak berakhlaq, berarti melakukan kezaliman. Dan perbuatan zalim yang paling dibenci Allah adalah mencegah da’wah/zikir kepada Allah SWT.
Allah SWT berfirman: “Tidak ada kezaliman melebihi kezaliman mereka yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam masjid-masjid-Nya (beribadah), berzikir dan berusaha untuk membubarkannya. Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalam masjid Allah, kecuali dengan rasa takut. Pelaku kezaliman di dunia akan mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat.” (Q.S. Al-Baqoroh ayat 114)

